Roundup: Skenario Jokowi 3 Periode, Luhut Pandjaitan Jadi Penasihat dan Puan Maharani Jadi Cawapres



Wacana menunda Pemilu 2024 masih ramai dibicarakan publik hingga pakar politik.

Berawal dari Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar alias Cak Imin dan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan adalah 2 di antara petinggi parpol yang melontarkan wacana itu.

Demi melancarkan penundaan Pemilu 2024, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Padjaitan sampai menyebutkan ada big data yang menginginkan Jokowi 3 periode.

Luhut Padjaitan bahkan mengatakan bukan tidak mungkin aturan dalam konstitusi berubah jika memang rakyat menghendaki.

Kalaupun tidak ada perubahan konstitusi yang membuat Jokowi menjabat lebih lama, kata Luhut, hal itu sama sekali tidak akan merugikan Jokowi.

Akan tetapi, Luhut mengatakan jika Jokowi menjabat 3 periode, dirinya tidak akan menjadi seorang menteri lagi.

"Cukup, lah. Saya kalaupun diminta, jadi penasihat saja boleh, lah. Tapi kalau jadi gini (Menteri) lagi, sudah cukup, lah. Kita tahu diri, lah," tutur Luhut Pandjaitan.

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Indonesia Political Review, Ujang Komarudin menduga Jokowi akan mendekati PDIP demi kelancaran wacana 3 Periode.

Dosen Tetap dan Pengamat Politik Universitas Al Azhar Indonesia itu pun mengatakan bahwa Istana tengah menyiapkan skenario Presiden 3 Periode.

Hal itu dilakukan, demi kelancaran investasi pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara dari sejumlah investor.

Di samping itu, dia menganalisis bahwa Jokowi harus 'meluluhkan' hati PDIP yang sudah tegas menolak wacana Presiden 3 periode.

Salah satunya yakni membuat Puan Maharani menjadi Cawapres-nya.

"Desain 3 periode itu bisa jadi nanti pak Jokowi akan mengatakan misalkan 'Bu Mega ayo kita koalisi, nanti Mbak Puan jadi cawapres saya aja, kita Pemilu' kan beres," ujar Ujang Komarudin.

Ujang Komarudin menekankan bahwa kekuatan investasi yang menginginkan jaminan itulah yang membuat Jokowi mengikuti desain 3 Periode.